Laporan Situasi: Vietnam

Catatan Editor: Laporan situasi ini tertunda selama beberapa hari karena negara-negara seperti Vietnam membuat kami merasa perlu menilai kembali tentang apa yang sedang terjadi di Asia Tenggara. Kami memulai dengan sangat skeptis tentangVietnam dan negara-negara lain melaporkan angka COVID-19 serendah yang dilaporkan. Namun sekarang kami sekarang jauh lebih optimis dengan alasan-alasan yang akan dirinci dalam artikel yang akan datang.

Pada 1 Februari, Vietnam adalah salah satu negara paling awal di luar Tiongkok yang memberlakukan peraturan darurat yang menutup bisnis dan sekolah yang tidak vital, dan menyebarkan kekhawatiran tentang COVID-19. Sejauh ini, strategi tersebut telah menunjukkan hasil dengan penghitungan resmi 268 kasus hingga saat ini (16 April) – dari jumlah tersebut, 169 telah kembali ke masyarakat, sedangkan 99 kasus lainnya masih dalam perawatan. Meskipun informasi yang beredar di Vietnam dikontrol secara ketat seperti Laos dan Kamboja, bukti sampai saat ini menunjukkan Gelombang Pertama wabah yang datang dari Cina ke Vietnam ini sebagian besar telah ditemukan dan wabah yang bisa meluas ke komunitas telah ditekan.

Dari Februari hingga Maret, jumlah kasus hanya meningkat dari sepuluh menjadi enam belas. Sementara jumlah kematian nol yang dilaporkan mungkin tidak sesuai kenyataannya, hal ini sejalan dengan dugaan kasus / angka kematian yang disesuaikan dengan jumlah kasus selama 3-4 minggu yang lalu. Vietnam mengkonfirmasi jumlah kasus mulai meningkat secara eksponensial pada awal Maret, hampir dua kali lipat antara 6 dan 10 Maret ketika Gelombang Kedua datang dari Amerika, Eropa, dan Inggris terdeteksi. Situasi menjadi stabil pada 5 April di 240 kasus, memuncak di 269, dan negara sekarang telah melalui sepuluh hari lagi dengan penambahan kasus baru hanya satu digit pada saat penulisan.

Sementara ada kemungkinan lebih banyak kasus daripada 266 yang dilaporkan secara resmi, banyak faktor -, aktivitas wisata, rentang waktu saat Vietnam menutup perbatasan dan wabah di tempat lain, model penguncian, dan dinamika sosial – menunjukkan bahwa jumlah tersebut mencerminkan skenario yang hampir realistis di lapangan, atau setidaknya menjadi alasan mengapa tidak ada jumlah yang sangat banyak yang perlu rawat inap. Sementara pertanyaan tentang penghitungan resmi Vietnam masih tetap ada, kurangnya penutupan berita yang disengaja tidak berarti ada penutupan yang tidak disengaja.

Gelombang Pertama

Gelombang pertama dimulai di Vietnam ketika dua pasien, seorang pria dari Wuhan mengunjungi putranya yang terinfeksi, dikonfirmasi pada 23 Januari. Hari berikutnya Pusat Pencegahan Epidemi Darurat diaktifkan, karena ada tambahan empat kasus positif, semuanya adalah orang yang baru saja mengunjungi atau pulang dari Wuhan. Pada 1 Februari, seorang resepsionis yang melakukan kontak dengan kasus pertama dan kedua menjadi kasus domestik pertama, setelah menunjukkan gejala dan dinyatakan positif. Pada hari yang sama pemerintah mengumumkan deklarasi epidemi, menutup perbatasan dengan Cina, membatasi visa, dan menutup operasi maskapai Vietnam di Cina. Karena tujuh kasus berada dalam Komune Son Loi (Distrik Binh Xuyen), pemerintah pun melakukan penguncian pada 10.600 penduduk distrik tersebut. Dua hari kemudian, sekolah dan ujian nasional ditunda hingga akhir Maret (tanggal yang ditetapkan untuk waktu yang tidak terbatas). Hingga akhir Februari, total 16 orang dinyatakan positif; dimana semua pulih pada 25 Februari.

Karena sebagian besar pengunjung dari Wuhan berada di bagian utara Vietnam, tepatnya di Distrik Binh Xuyen, sangat mungkin bahwa sebagian besar kasus berada di dalam lokasi penguncian tersebut. Pemerintah melacak 373 kontak di dalam Komune Son Loi, membantu langkah-langkah penguncian, dan akhirnya menghentikan penyebaran gelombang pertama. Seperti yang terlihat di negara-negara lain yang mengalami SARS pada tahun 2003, laporan dari Komune juga menunjukkan orang-orang benar-benar mematuhi langkah-langkah penguncian, sehingga secara efektif menghentikan penyebaran tidak sengaja dari kasus yang menunjukkan pra-gejala. Geografi Son Loi mungkin telah membantu juga – itu adalah komune pedesaan di distrik yang letaknya di pedalaman, yang mungkin merupakan faktor yang membantu sehingga tingkat penyebaran lebih rendah.

Penguncian berakhir pada 3 Maret, 20 hari setelah kasus terakhir yang dilaporkan. Dengan berkurangnya kasus, Vietnam secara efektif mencegah penyebaran wabah dari gelombang pertama dengan kombinasi dari penguncian lebih awal, penutupan perbatasan, melacak kontak kedua dan ketiga, dan secara efektif menyebarkan informasi. Penyebaran informasi yang efektif adalah faktor yang tidak dapat diabaikan dari rencana pemerintah untuk memerangi penyebaran COVID-19. Pada awal Februari, pos-pos di media sosial mulai menyebar kekhawatiran tentang virus, sehingga menimbulkan pembelian produk karena kekhawatiran. Pemerintah melakukan campur tangan pada saat itu, dan mulai membangun saluran resmi di Facebook, tentang mana dari setengah populasi yang ada, dan juga dalam lingkaran informasi tradisional di masyarakat pedesaan. Pada bulan Maret, aplikasi NCOVI diluncurkan supaya dapat mengakses informasi resmi dengan lebih mudah dan untuk pelaporan kesehatan. Pemerintah juga mulai mendenda orang-orang yang mencari untung dan melakukan penipuan berkaitan dengan masker atau peralatan sanitasi lainnya. Pengamat Hak Asasi Manusia di dalam negeri juga melaporkan bahwa mereka diawasi secara ketat di tengah-tengah desas-desus bahwa mereka yang kedapatan menyebarkan “informasi palsu” atau “disinformasi” telah ditangkap.

Terlepas dari angka positif dalam gelombang pertama, karena insiden masa lalu, kritikus Partai Komunis Vietnam sangat skeptis terhadap data ini. Namun, nasionalisme yang sama yang telah digunakan untuk melakukan penutupan di masa lalu, seperti tumpahan Formosa Ha Tinh Steel, tampaknya telah berhasil dimanfaatkan untuk membangun solidaritas dan membuat masyarakat mengikuti langkah-langkah penjagaan sosial yang ketat. Hal ini tampaknya berhasil. Sentimen anti-Cina yang kuat – yang terkadang berasal dari rasisme dan bukan hanya ideologi pemerintah – dan persaingan antara kedua negara juga membuat penutupan perbatasan antar kedua negara merupakan keputusan yang mudah. Warga Vietnam sangat sadar akan ketegangan dengan China, setelah konflik maritim yang, hingga akhir 2019, menjadi kurang baik.

Sekalipun jumlah kasus lebih tinggi daripada yang diperkirakan (seperti halnya hampir di semua tempat), tidak mungkin wabah Gelombang Pertama menyimpang dari tren keseluruhan yang menunjukkan wabah komunitas kecil dapat ditangani dengan cepat. Kota Ho Chi Minh, yang hanya memiliki 54 kasus, memiliki batas 900 tempat tidur – atau 10 tempat tidur untuk setiap 100.000 orang. Kota Ho Chi Minh mungkin juga terhindar dari gelombang pertama karena sebagian besar pelancong ke / dari Wuhan tinggal di utara, dan biasanya bekerja di pekerjaan pedesaan. Lebih lanjut, terdapat 3.344 juta orang yang bepergian per bulan melalui Bandara Internasional Tan Son Nhat . Wabah akan tetap terlihat di Ho Chi Minh karena volume lalu lintas yang padat – karenanya, mengacu pada kesimpulan awal bahwa kuncian awal Vietnam selesai pada waktu yang tepat dan angka yang dilaporkan secara resmi akurat secara luas.

Gelombang 2

         Mengasumsikan bahwa wabah gelombang pertama berhenti karena waktu penguncian yang tepat adalah alasan yang wajar – Singapura, Hong Kong, Taiwan dan Makau semuanya memiliki hasil yang sama karena langkah awal menerapkan social distancing dan pembatasan perjalanan. Gelombang kedua yang datang dari Eropa dan Amerika, karena semua langkah efektif diberhentikan (pada saat penulisan), menuntut lebih banyak penjelasan. Vietnam mengulang langkah-langkah yang diterapkan pada Gelombang Pertama ketika Gelombang Kedua terdeteksi.

Titik pengembangan utama adalah pasien 17, yang mengalami gejala pada awal Maret, tetapi tidak diuji sampai 6 Maret karena perjalanan yang dirahasiakan ke Eropa. Dua ratus orang yang berada 1 pesawat bersamanya, bersinggungan jalan, atau berhubungan dekat dengannya, kemudian dikarantina. Kasus ini juga berada di ibukota Hanoi yang padat penduduk, yang memicu kembali kepanikan dan kekhawatiran di seluruh negara. Beberapa orang lain yang berada dalam penerbangan yang sama dengan pasien 17 dinyatakan positif. Pasien 18 baru saja kembali dari pusat gempa Daegu, Korea Selatan – ia segera diisolasi setelah kembali, serta semua orang yang ada di pesawat. Cluster kedua gelombang 2 dimulai dengan pasien 34, yang telah terbang dari Amerika Serikat melalui Korea dan Qatar. Tujuh belas pasien lain pada akhirnya ternyata terhubung dengan pasien ke-34, sebuah bukti dari tindakan ekstrem pengujian, pelacakan, dan karantina yang diambil pemerintah pada kasus-kasus yang masuk. Dua minggu setelah gelombang kedua dimulai, total kasus di Vietnam meningkat dari nol kasus aktif menjadi 75.

Kekhawatiran tentang transmisi komunitas sangat jelas, dengan pemerintah pusat menyebarkan pesan-pesan keprihatinan di seluruh komunitas, mendesak langkah-langkah menjaga jarak sosial yang ekstrem di Hanoi. Sama seperti kerja sama komunitas adalah kunci dalam mengendalikan gelombang pertama, kerja sama mereka juga kunci untuk mengendalikan gelombang kedua. Namun, yang lebih penting adalah garis waktu penutupan penerbangan. Pada 11 Februari, Korea Selatan mengeluarkan “Peringatan Jangan bepergian,” untuk Vietnam dan pada 29 Februari program bebas visa dengan Korea Selatan ditunda sementara. Korea mencapai 3.150 kasus pada hari itu. Tahap berikutnya adalah pada 7 Maret ketika deklarasi kesehatan diberlakukan untuk semua wisatawan yang datang. Vietnam menghentikan penerbangan ke dan dari Prancis pada 9 Maret, sama seperti mereka mencapai 1.412 kasus. Penerbangan ke dan dari Inggris dihentikan pada 15 Maret. Rusia – negara dengan populasi turis keenam tertinggi di Vietnam – menutup perbatasan mereka pada 18 Maret. Empat hari kemudian, Vietnam menghentikan semua warga negara asing dan pemegang visa saat ini, memerintahkan bahwa setiap misi diplomatik juga harus melalui karantina empat belas hari. Pada hari yang sama, dunia mencapai 337.000 total kasus. Vietnam juga menutup perbatasannya dengan Kamboja pada periode ini ketika mereka mengumumkan infeksi komunitas pertama mereka.

Sementara gelombang kedua tiba dari Eropa, negara-negara lain – seperti Singapura, Thailand, dan Indonesia – mulai melihat adanya ekspor dan impor kasus satu sama lain, bahkan yang lebih mengkhawatirkan adalah Malaysia dan Kamboja. Vietnam, bagaimanapun, tidak melihat banyak impor dan tidak ada ekspor yang dilaporkan kecuali kecurigaan awal bahwa pelaut Angkatan Laut AS membawa COVID19 kembali ke USS Theodore Roosevelt selama kunjungan pelabuhan ke Da Nang pada 5 Maret. Angkatan Laut saat ini percaya kru penerbangan membawanya ke kapal induk. Ada juga kekhawatiran tentang aliran pekerja migran Malaysia yang tetap masuk ke Singapura. Thailand sebagai pusat pariwisata regional, dan Indonesia dan Malaysia adalah komunitas yang saling terkait satu sama lain sehingga mengekspos Vietnam terhadap risiko besar impor kasus dari Asia Tenggara. Seperti halnya turis Eropa dan Amerika, ada kemungkinan bahwa saran perjalanan dari Gelombang Pertama, yang memperingatkan tentang risiko perjalanan di Vietnam, secara tajam membatasi jumlah impor dari Asia Tenggara, Eropa, dan Amerika ke negara tersebut pada Gelombang kedua.    

Kasus paling menonjol dari Malaysia dites positif pada 16 Maret, pada hari yang sama penggunaan masker menjadi wajib di tempat umum. Pasien tersebut mengalami gejala pilek saat kembali dari ibadah haji ke jamaat Tabligh. Dia terus menghadiri Masjid Jamiul di Saigon sebelum saran dari dokter kedua, yang merekomendasikan tes COVID-19. Beberapa kasus lain terhubung dengan pasien ini, sementara tiga Muslim lainnya yang kembali dari acara yang sama dinyatakan positif pada akhir minggu, satu orang telah melanggar rekomendasi karantina. Kasus-kasus tersebut mengawali retorika anti-Islam di Vietnam selatan ketika muncul kekhawatiran bahwa masyarakat setempat terinfeksi. Masjid Saigon dikarantina dan ditutup pada 18 Maret, menghasilkan karantina dari semua kontak di dekatnya. Desa Van Lam, tempat tindakan karantina tidak ditaati, juga dikunci pada hari yang sama.

Tindakan karantina yang ketat adalah alasan lain angka kasus yang rendah. Tidak hanya orang-orang yang terhubung dengan kelompok telah diisolasi, seluruh desa telah dikunci untuk mengisolasi penyebaran. Pemerintah telah mengambil pendekatan seperti pemadaman kebakaran, dengan mencoba mengkotakkan virus di desa-desa, dan mencegahnya bocor ke luar. Pada awal Maret, pemerintah telah menyetujui 22 lokasi pengujian di seluruh negara, sambil menyiapkan lokasi karantina militer. Pada 23 Maret, 50.000 orang dikarantina di desa atau kamp militer. Ha Loi, sebuah desa dengan 11.000 orang di luar Hanoi, dikunci pada 11 April. Pada 15 April, pemerintah mengumumkan 12 provinsi akan memperpanjang penguncian selama tujuh hari lagi, lagi-lagi, dengan kekhawatiran bahwa bahkan peningkatan kecil saja dalam kasus-kasus akan dengan cepat tidak mampu ditangani oleh sistem kesehatan. Laporan mobilitas masyarakat dari Google mendukung klaim bahwa karantina, penguncian, dan ketakutan yang cukup telah berhasil membuat orang Vietnam di rumah, dan jauh dari publik sejak Februari. Dibandingkan dengan negara-negara Tenggara lainnya sehinga di Google’s Mobility Report, Vietnam memimpin dalam menghindari titik pengumpulan tradisional.

Gambaran keseuluruhan dimana Vietnmam berhasil mengatasi wabah Gelombang pertama, terpukul dengan Gelombang kedua seperti di negara-negara Asia lainny namun dalam skala yang lebih kecil, dan sampai saat ini telah berhasil menampung setiap cluster.Namun, ada resiko bahwa kasus tidak terdeteksi jika menyebar di komunitas pedesaan

Ekonomi

Meskipun COVID-19 menghancurkan ekonomi negara-negara di seluruh dunia, ekonomi Vietnam terus berutmbuh mesikupun pada tingkat yang lebih rendah dari perkiraan. Kuartal 1 konsumsi GDP meningkat 3.07% dari tahun ke tahun, meskipun panen pertanian, industri dan konstruksi tersendat. Sebanyak 18.600 bisnis akan menghentikan sementara perusahaan mereka, sementara 12.000 lainnya mengajukan penutupan-namun tingkat pengajuan penutupan ini menurun dari tahun ke tahun, kemungkinan karena peningkatan penghentian sementara hingga 26% dari praktik bisnis yang tidak memilih melakukan penutupan. Ekspor dan impor juga sangat mengalami dampaknya karena penutupan sementara perbatasan untuk barang-barang material. Hasil kuartal pertama telah mengurangi harapan para ekonom bahwa tahun ini akan menjadi tahun yang gemilang untuk Vietnam. Walaupun demikian, jika Vietnam terus mengendalikan ekonomi, mereka cenderung akan memiliki tahun yang lebih baik daripada kebanyakan negara lainnya. Walau saham turun sebanyak 31%, investor yang melihat pemerintah yang responsif , yakin mereka dapat menjadi sumber produksi karena beberapa perusahaan AS beralih memproduksi di Vietnam daripada di China.

Walaupun demikian, pada skala mikro, langkah-langkah yang lebih drastis menunjukkan situasi yang suram. Lebih seidkit makanan yang diekspor, kekhawatiran yang berlebihan pada rantai pasokan makanan global, sementara pemerintah pusat akan kehilangan setara 7.6 milyar USD karena pembatalan pajak. Produksi juga mungkin terus menurun karena perusahaan melihat konsumsi global yang lebih sedikit, yang mengarah pada penghentian sementara secara lambat atau pengehentian sementara secara menyeluruh, seperti jalur produksi Toyota. Kementerian Perdagangan dan Perindustrian juga sekarang akan mengalokasikan pasokan bahan baku pada perusahaan manufaktur.

Hasil dari banyak kekhawatiran, terutama disebabkan hal yang tidak diketahui, telah menyebabkan ribuan pengangguran tanpa pendapatan untuk kebutuhan sehari-hari. Pemerintah telah berjanji untuk menyediakan pelatihan kerja dan program tambahan lainnya untuk dukungan keuangan. Dengan rantai pasokan yang dipertanyakan untuk masa mendatang, perusahaan harus membuat strategi mitigasi untuk bisa bertahan pada kondisi yang tidak menentu ini. Dengan meningkatnya dukungan warga, akan tetap menjadi pertanyaan seberapa besar komitmen pemerintah pusat Vietnam untuk mendukung warganya. Orang-orang yang berada dalam pengungsian, menerima upah harian dari pemerintah, sementara bisnis yang lebih dermawan menyiapkan beras gratis bagi mereka yang tidak mampu membeli makanan. Nguyen Man Hung yang berada di belakang proyek ini, menyediakan 10 ton beras untuk diabagikan pada orang-orang. Pada hari pertama, lebih dari 700 orang menerima kemurahan hatinya dengan total bantuan yang disalurkan mencapai 2,3 ton beras.

Lanskap bisnis domestik mungkin menjadi yang pertama kembali beroperasi, dimana menunggu selesainya waktu penguncian, karena Vietnamese Airlines akan memulai rute penerbangan domestik dalam minggu mendatang. Salah satu sektor utama yang harus dipecahkan oleh bisnis dosmetik adalah output energi. Vietnam saat ini berada pada krisis energi yang tertunda dikarenakan konsumsi yang meningkattanpa investasi lebih lanjut. Bisnis-bisnis Amerika seharusnya akan berinvestasi untuk menyelesaikan masalah ini, ketika COVID-19 datang, sehingga mereka mundur pada awal tahun ini hingga waktu yang belum ditentukan. Sebagian besar perkiraan kenaikan GDP didasarkan pada investasi asing di 2020 yang seharusnya menyediakan solusi infrastruktur yang telah menyebabkan berhentinya investasi asing pada sektor lain.

 Solusi Vietnam untuk mengatasi masalah ekonomi mungkin tidak berlangsung lama, dan dengan pandemi yang relatif masih ada pada tahap awal, penundaan pada infrastruktur dapat menyebabkan masalah pengangguranuntuk mereka yang berada atau di bawah garis kemiskinan. Pemerintah harus tetap berkomitmen untuk membantu masyarakat pedesaan, bahkan bila artinya harus mendefinisikan kembali rencana ekonomi. Pertumbuhan kasus mungkin dapat segera dihentikan, tapi dengan berita hoax baru tentang denda yang mengambil seperempat hingga setengah tahun dari bayaran pekerja , penurunan dalam kondisi – ekonomi atau medis – komunitas pedesaan ini mungkin tidak siap untuk berhadapan dengan dunia luar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.