Laporan Situasi: Indonesia

Kasus COVID-19 pertama di Indonesia tidak diumumkanhingga tanggal 2 Maret 2020 kemarin, dan jumlah resminyatelah bertambah menjadi 2.092 kasus positif per tanggal 8 April 2020 dengan jumlah kematian mencapai 191 orang yang dilaporkan oleh Menteri Kesehatan, hal ini menyebabkan rasiokematian COVID-19 di Indonesia sebesar 9%, yang merupakantertinggi kedua di Asia. Respons pemerintah yang lambat, dengan jumlah total kasus yang dilaporkan relatif masih sangatrendah, ditambah tingkat kematian yang tinggi, dapat dikaitkandengan kurangnya pengujian dan respons pemerintah yang lambat.

Badan Intelijen Nasional Indonesia meramalkan bahwa pada Juli2020, jumlah orang yang terinfeksi dapat mencapai 106.287, danFakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia memperkirakan jumlah infeksi dapat mencapai 500.000 hingga2,5 juta orang, jumlah ini tergantung tingkat intervensipemerintah. Tentu saja, data yang akurat hanya dapat dihasilkanmelalui pengujian massal. Setelah menerima ratusan ribu alat tescepat dari Tiongkok pada pertengahan dan akhir Maret(termasuk penundaan satu minggu karena birokrasi), Indonesia mulai melakukan pengujian di Jakarta, Jawa Barat, dan Banten,dengan fokus pada daerah yang telah dikonfirmasi jumlah kasusdan kematiannya. dan juga terhadap populasi yang dinilairentan, termasuk pekerja medis. Hanya 7.621 tes yang telahdilakukan per tanggal 4 April 2020.

Intervensi pemerintah dinilai lambat dan dikritik karena lebihberfokus pada dampak ekonomi. Menteri Keuanganmemperkirakan bahwa pandemi ini dapat memperlambatpertumbuhan ekonomi Indonesia hingga lebih dari setengahnya, ia memproyeksikan pertumbuhan kurang dari 2,3%, dibandingkan dengan rasio awal 5,0% sebelum wabah.

Presiden Joko Widodo tidak mengumumkan keadaan daruratkesehatan masyarakat hingga 31 Maret 2020, yang kemudiandisusul dengan penerapan social-distancing, ia juga mendesakpara pemimpin lokal dan regional untuk tidak mengeluarkanperaturan yang terpisah, termasuk perintah lockdown. Perintahpresiden mengikuti langkah-langkah yang ditentukan oleh UU 6/2018 tentang tindakan darurat kesehatan masyarakat yang mengatur kegiatan dan pertemuan publik, tetapi implementasidan efektivitas perintah tersebut masih belum jelas. Karenarespons federal sangat lambat, pemerintah negara bagian danlokal di seluruh Indonesia mulai menerapkan pembatasan lokalpada awal dan pertengahan bulan Maret. Pemerintah provinsi di wilayah barat, misalnya, menyatakan keadaan darurat merekasendiri karena provinsi lain mengaku tidak memiliki kasuspositif dan melakukan bisnis seperti biasa. Gubernur Jakarta telah mendesak Presiden Widodo pada awal Maret untukmemberlakukan lockdown, karena hanya presiden yang memiliki kekuasaan untuk melakukannya. Masyarakat jugamenyerukan agar Menteri Kesehatan Indonesia diberhentikankarena tidak menganggap serius ancaman pandemi ini.

Sebelum darurat kesehatan masyarakat diumumkan, kebijakannasional diumumkan pada 17 Maret 2020 dan efektif 20 Maret2020, yang mengikuti panduan WHO. Pihak berwenangIndonesia menyarankan masyarakat untuk menghindariperjalanan yang tidak penting, menerapkan pemantauankesehatan masyarakat atas kedatangan pengunjung ke negaratersebut, dan membatasi siapa saja yang telah melakukanperjalanan ke tujuh negara dalam 14 hari terakhir; China khususnya absen dari daftar itu.

Untuk meningkatkan kemampuan sektor medis dalammerespons, pemerintah memberikan tambahan Rp 400 triliun(US $ 24,4 miliar) dalam anggaran nasional yang dialokasikanuntuk mengimpor peralatan medis, peralatan, dan obat-obatanseperti Avigan dan Choloroquine, dan untuk menyediakanperlindungan dan insentif bagi dokter dan asisten medis yang secara langsung terlibat dengan pasien COVID-19. Desa Atlet di Jakarta Pusat telah diubah menjadi rumah sakit darurat, danRumah Sakit Pertamina Jaya di Jakarta untuk sementara waktudiubah menjadi rumah sakit khusus yang ditunjuk untukperawatan pasien COVID-19. Rumah sakit darurat COVID-19 yang ditunjuk di Pulau Galang di Provinsi Kepulauan Riau dibangun untuk mengantisipasi pasien migran Indonesia yang pulang terutama dari Malaysia.

Langkah-langkah ini terlalu sedikit, terlalu terlambat untukIndonesia, dan sejauh mana penyebaran virus ini masih belumdiketahui. Mengingat situasi serius ini, Outbreak Asia merekomendasikan kebijakan berikut ini:

Rekomendasi kebijakan:

  1. Menerapkan kebijakan nasional yang koheren termasukpenguncian, karantina, dan kampanye kesehatanmasyarakat untuk menjangkau semua penduduk. Berkoordinasi dengan pemerintah daerah dalam penegakankebijakan.
  2. Secara resmi melarang pertemuan massal, termasukpertemuan keagamaan.
  3.  Batasi semua perjalanan domestik dan internasional keluar.4. Karantina semua kedatangan internasional, terlepas darikebangsaan, selama 14 hari.
  4. Tingkatkan kapasitas pengujian di seluruh negerimenggunakan alat tes cepat untuk mengidentifikasi klusterCOVID-19, dan juga menambah jumlah laboratorium tesPCR, kemudian meningkatkan jumlah pengujian PCR di Jakarta.
  5. Alokasikan dana tambahan dari anggaran nasional untukmeningkatkan jumlah fasilitas kesehatan, dokter, dan stafmedis, terutama di daerah di luar tiga titik fokus saat iniyaitu pengujian dan perawatan.
  6. Membangun kerja sama yang lebih luas di antara negara-negara anggota ASEAN untuk meminimalkan penyebaranvirus dan menindaklanjuti komitmen para Menteri Keuangan negara-negara ASEAN, yang diadopsi pada 10 Maret 2020 di Vietnam.
  7. Alokasikan dana tambahan dari anggaran nasional kepopulasi paling rentan di Indonesia, termasuk pemberianuang tunai secara langsung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.